Hey You!

My photo
Jakarta, Indonesia
a sucker for city lights.

Friday, July 18, 2014

Hypocrisy much?

Preacher.

I have learned the hard way that it is best not to argue with them about anything, let alone religion matters. They are preachers; they're shaped that way. Arguing with them won't give me any good anyway, so I learned to just bear with it. But this one thing really bothers me.

As I grew older, I realize that more and more people around me have come closer to their God; they become more and more religious as the day goes by. I don't really know what caused that; we're all in our 20s. Americans, in this case my American friends, do not get into that phase though. Well, maybe they weren't all that religious before, but so did many of my friends. Maybe it's the culture. I don't know, maybe.

As for me, I have my own relationship with my Creator, which I will not reveal in this post. It is extremely personal for me and I intend to keep it that way. But in general, I have never been a strong follower in practicing the rituals in my religion. Though, I believe it does not correlate with my beliefs; what I fundamentally believe in. I just don't practice the practical, that is all. One might think that it is impossible to truly devoted to the religion if one leave out the practical, but for me the level of relationship between God and His creation can not be defined in such a narrow view. It is extremely personal and intimate area in a human's life that can never really be measured.

In my 20s, of course, the topic of marriage and wedding has come around to the table. Quite often, actually. My girl friends and I often wander off to those topics; from our dream husband until motherhood; from dating place to (our) future kids education. Such topics never really exist when we were back in High school and for me it's almost like a wake up call. You're a grown up now. Time to really, really think about getting your life together.

Anyway, back to religion. As most of my friends are quite religious now, I realized that it is also affecting their view on marriage and finding a life partner. Girls want guys who would be their Imam, leading the prayers before them. Guys want a shalehah girls, who would be devoted to their husband and their family. In this writing I want to point out the second, how guys are now craving for shalehah bride.

There is nothing wrong with it, of course. Totally understandable, after all who wouldnt want a devoted wife? One that is devoted to God, to her husband, and to her future children. One that knows how to carry a graceful manner, speaks softly, glowing face and smile, a feminine, delicate flower. Wearing hijabs and covering her body curves. A pure flower that is reserved to just one man. Oh yes, we can see why the idea is so tempting for men. Especially those who know how a devoted wife could be a way to get closer to their God, as a good man who can lead his family to the goodness in life is truly blessed and relatively has a good chance to go into Jannah. I don't know what the verses from the Qur'an are, but that is generally the idea.

I am so angry at this concept of perfect wife.

Oh please. Spare me the hypocrisy. Do not tell me that you guys all want a shalehah woman. What you guys want are beautiful woman that happens to be shalehah or the other way around. The point is, physical beauty still plays a huge part for men in making decision which one of the women they're about to get married to. And I find that such a hypocrisy. How dare you wish for a shalehah woman with a beautiful features. A really beautiful concept of shalehah is being collaborated with the shallow, artifical perception of beauty.

When there are two shalehah women being compared. With the same level of devotion to God, the same gracious manner, the same kind heart, over all have a similar quality. The one thing that is going to separate them from being some man's wife is now who is the better looking between them.

It is understandable. I want to say it is natural, but the fact is I don't know. But I can understand if a man chooses the more attractive one to be his bride. It leaves me feeling devastated, though.

If in the end, if your physical look is what matters...then why even bother? Why pretend like beautiful is not a major factor for a man? Why the hypocrisy? Why are you putting up shalehah as one of the traits, yet acting like putting up physical beauty would make you shallow when in fact yes it matters to you!

Beauty is relative, they say. Maybe not so much. There are standard of beauty. I am talking physical here, because I think inner beauty is a complete bullsh*t. It's an excuse, a treat to help one feel better about themselves.

In the end, what's going to happen then for the inattractive shalehah women?

This writing may seem...jumpy? I wrote it in my phone and it's annoying so I can't really explore my thoughts. Overall this is kind of a rant I'm having after seeing someone's post.

And men, please grow up.

Monday, July 7, 2014

Tentang Pilpres dan Lainnya

8 Juli 2014.

Besok, 9 Juli 2014, adalah Pemilu Presiden saya yang pertama. Saya masih menyimpan memori ketika dulu terduduk di depan televisi menyaksikan penghitungan suara di parlemen antara Megawati dengan Gus Dur, karena hampir semua televisi menyiarkan penghitungan tersebut yang buat saya membosankan karena cuma memperhatikan bapak-bapak itu menghitung suara. Kemudian tahun 2004, pemilihan langsung yang pertama di Indonesia. Pesertanya cukup banyak, saya masih ingat dalam perjalanan ke sekolah dari Bekasi, di lampu merah Halim ada papan reklame yang menampilkan 5 capres yang mencalonkan diri. Saya juga masih ingat terkagum-kagum pada sosok SBY yang ganteng, kharismatik, membawa slogan Bersama Kita Bisa yang menurut saya sangat mengesankan, bahkan bagi saya yang masih duduk di kelas 5 SD.
Kemudian datang tahun 2009. Pesertanya menyusut, menjadi tiga pasang saja. SBY - Boediono, JK - Wiranto, dan Megawati - Prabowo. Kala itu saya justru tidak terlalu tertarik lagi mengikuti pemberitaan pemilu, mungkin karena umur lagi labil-labilnya. Kampanye mereka tidak ada yang mengesankan seperti SBY di tahun 2004. Kala itu juga internet baru mulai berkembang sebagai sumber informasi, sebelum itu internet bagi saya sebatas tempat untuk ngeceng (Friendster) atau IM-an sama teman-teman.
Sekarang tahun 2014. Saya bukan lagi remaja labil (well...), umur saya telah menginjak angka 21. Labilnya mungkin masih tapi remajanya udah enggak. Sebagai mahasiswi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, omongan soal politik ini tidak lagi jadi subyek yang asing buat saya. Dan saya menikmatinya, terus terang. Politik yang selama ini hanyalah sebuah ranah yang berkabut, sejak duduk di bangku kuliah saya mendapatkan kesempatan untuk memahami politik dengan lebih terstruktur mengikuti pola pemikiran yang runut dengan basis keilmuan yang jelas. Bukan, jurusan saya bukan Ilmu Politik. Saya sangat menikmati jurusan saya yaitu Ilmu Komunikasi, karena jurusan saya ini memang berada di persimpangan jalan, alias bisa dengan mudah menclok di ranah apa saja. Salah satunya, politik.

2014 bukan lagi 2009. Internet dan sosial media jadi primadona Pemilihan Presiden tahun ini. Gempuran pendukung di dunia maya bagi saya sudah memasuki level meresahkan. Saya sendiri pada awalnya menempatkan diri sebagai swing voters, karena saya ingin melihat sampai akhir masa kampanye bagaimana sepak terjang kedua capres tahun ini, Jokowi dan Prabowo, berlaga. Saat ini saya sudah punya preferensi namun akan saya simpan sendiri saja. Saya melalui tulisan ini hanya ingin membagi keresahan saya terkait dengan Pemilihan Presiden tahun ini.

Entah mengapa, saya merasa takut sekali bahwa masyarakat Indonesia semakin hari semakin judgmental dan menyederhanakan segalanya. Mudah sekali terprovokasi. Mudah sekali mengoarkan dikotomi-dikotomi yang bagi saya, hanya membuat suasana menjadi tidak nyaman. Bukan, saya tidak hanya bicara eksklusif tentang negative campaign namun kampanye secara keseluruhan.

Hati saya rasanya teriris kala melihat teman-teman saya pun kini banyak yang memandang fenomena - fenomena pilpres ini dengan begitu sempit. Kalo lo gak A, ya pasti B. Kalo lo B, ya pasti begini, begitu, begini, begitu. Mungkin kalau ada yang baca akan menampik, "Ah, enggak ah!" . Tapi sadarkah kalian ketika kalian ngetweet " Kenapa bego banget sih ada yang mau milih X?" atau "Cuma orang tolol yang mau milih Y." " Gue milih X karena gue masih punya akal dan pikiran." itulah yang sedang kalian lakukan. Tambahkan embel-embel lain. Ya syiah lah, liberal lah, pecinta Orde Baru lah, gak ngerti HAM lah. Kalian mengeksklusifkan diri dan membentuk dikotomi - dikotomi tersebut. Kalimat - kalimat tersebut mengatakan bahwa yang tidak sependapat dengan kalian adalah bodoh, tolol, tidak punya akal dan tidak bisa mikir. Ah, yakin? Saya yakin kalian gak akan pernah ngomong terang-terangan sama mereka, "Lo itu bego, tolol, gak punya akal dan gak bisa mikir." Kalian pintar, berpendidikan dan punya etika. Saya yakin kalian juga tidak bermaksud "menyerang" secara personal. Tapi apalah arti intensi kalau akhirnya hilang dalam translasi. Salahin yang ngambil hati dong, orang bukan buat dia (doang). Bagaimana tidak diambil hati kalau yang bicara teman sendiri yang muncul di Timeline Twitter atau News Feed Facebook?

Well, to be fair, memang terserah saja sih mau nulis dan berpendapat apa juga. Mungkin kalian ngetweet seperti itu memang untuk boasting yourself aja. Atau pengen di retweet. Halal kok, gak papa, dimaklumi. Tapi saya hanya berpikir, berapa banyak teman kalian sendiri yang sedang kalian exclude dengan tweet seperti itu? Berapa banyak sakit hati yang tercipta? Berapa banyak kemarahan yang kalian sulut? Berapa banyak ketakutan akan dijudge yang kalian timbulkan? Sadarkah kemiripan perilaku kalian dengan perilaku pelaku bullying? Bagi saya sangat disayangkan sih, ketika masih banyak cara lain, bentuk kalimat lain, yang bisa kalian pakai untuk mendukung pilihan kalian tanpa ada resiko menyakiti hati orang lain.

Kemudian nyinyir. Saya termasuk penggemar sarcasm. Dalam artian, penikmat. Anak-anak Tumblr ngerti dong sarcasm di Tumblr tuh lucunya kayak gimana, dewa banget. Sarcasm juga tipe humor yang bikin saya jadi lebih gampang gaul dan ngerti pergaulan waktu survival (ehehehe gak kok, pertukaran pelajar) di Amerika setahun. Tapi dalam konteks ini, nyinyirnya makin pedes kayak cabe rawit. Pedesnya kadang borderline pengen ketawa sama pengen marah. Terus, nyinyirnya pake hati pula. Personal pula. Bikin sakit mata dan bikin dosa. Makanya saban ada debat capres pasti saya ngumumin bakal unfollow sementara yang nyinyir. Nothing personal, just trying to save my conscience. Btw, nyinyir sama sarcasm sama beda ya?

Ah, lo aja kali Nad sensitif amat. Insecure amat , kepedean itu tweet buat elo.
Yaa...gimana dong. Habis, saya teridentifikasi dalam golongan yang mereka ciptakan itu dikotominya...

Kadang, fanatisme memang bikin buta. Nggak kok, saya nggak akan bilang kalian yang fanatik buta. Saya juga gak bilang kalo mata saya yang paling jernih melihat segalanya. Tapi berhubung saya selama hampir seluruh masa kampanye ini memang swing voter, saya rasa saya cukup objektif dalam melihat dua kandidat, berhubung saya enggak ngefans sama dua-duanya.

Yang saya sedih lagi sih, karena kalian sudah memutuskan akan memihak saya merasa kalian selalu in denial. Yang paling kelihatan sih, pas lagi debat Capres. Entah kenapa rasanya jaraaaang banget saya lihat pendukung seberang mengapresiasi oponennya. Ya iyalah Nad, yakeleus... Ah, tapi kok buat saya jatohnya denial ya? Buat saya setiap debat dua-duanya punya highs and lows. Saya yakin kalian juga sadar, kok, karena after all kalian pintar, berpendidikan, dan punya etika. Tapi kenapa mendadak semuanya jadi dull begini? Ketika favorit kalian ngomong A yang agak gak masuk akal, kalian diam. Tapi kalau B yang ngomong, wah rame. Kalau A punya ide bagus diapresiasi setinggi-tingginya. Kalau B, antara dicuekin sama di cuih in.
Sebuah ide atau pemikiran bagi saya baiknya dipandang sebagai entitas sendiri saja. Jangan karna yang ngomong idola semuanya benar, yang diomongin lawan semuanya salah. Ya kan tapi Nad, gabisa dipisahin dong sama yang ngomong dan punya idenya. Ya iya juga sih, tapi kalau ternyata dengan dipisahin memandangnya jadi lebih clear kenapa enggak? Kalau ternyata selalu dilihat dari siapa yang ngomong hanya bikin rancu, kenapa tidak mulai dipisah?

Mungkin lagi-lagi kalau ada yang baca akan mikir, Ah, nggak juga ah. Yakin? Karena saya yang melihat dan merasakan perilaku kalian selama ini.

Next. Ketakutan dan semua what-ifs yang sering juga jadi senjata. Hmm...saya agak bingung sebenarnya nulisnya gimana. Pendukung Jokowi, salah satunya yang sering diucapkan adalah ketakutan Orde Baru bangkit lagi, ketakutan nanti ada bredel dan pembatasan kebebasan, ketakutan akan diculik trus menghilang (untuk yang terakhir saya mau nyinyir dikit. Kalian siapa sih dan kerjaannya emang ngapain sampe takut akan diilangin segala?!). Sementara pendukung Prabowo, takut akan ada liberalisasi agama, takut syiah, takut JIL, takut capres boneka, entah takut apa lagi. Dua kubu ini isu yang jadi senjatanya juga beragam dan duh, serem-serem. Mulai dari Pak Jokowi yang PKI sampai Prabowo yang nyuruh jarah rumah warga yang terbakar. Herannya saya sih cuma satu. Kita bicara masa depan. Nggak ada yang tau pasti, semua itu hanya prediksi. Trus kenapa harus paranoid?

Liat dari sejarahnya dong Nad. Prabowo tuh penjahat HAM. Nyulik-nyulik aktivis. Terbukti lagi, tuh dipecat!
Saya nggak akan bilang itu bohong, ya kan memang kejadian. Tapi untuk menyebut beliau sebagai penjahat HAM, ah siapalah saya bisa seenaknya melabeli orang. Ngerti hukum enggak, ngerti HAM juga cetek banget. Berlawanan lah yang jelas dengan conscience saya untuk melabeli orang seenaknya. Hal yang sama juga berlaku untuk Jokowi. Yang namanya fakta sejarah ya memang fakta, mau saya berbusa-busa bikin fiksi sejarah lain pada hakikatnya fakta tidak akan berubah. Tapi intinya sama, saya tidak ingin melabeli siapapun seenaknya.

Sejarah memang tujuannya menurut guru SMA saya adalah cara manusia untuk mempelajari kesalahan di masa lalu supaya tidak terjadi di masa depan. Saya enggak inget tuh, fungsi sejarah sebagai pencipta ketakutan dan paranoia sama masa depan. Sementara hal itu yang saya lihat sekarang. Fakta sejarah antara dipakai untuk mengendorse favorit atau untuk menciptakan ketakutan. Why is everybody being so paranoid of the unknown?

Kalau ada yang baca, mungkin ada yang bakal mendecak dan mikir, ah lu aja Nad gak ngerti sejarah. Iya kok, nilai Sejarah saya emang gak bagus-bagus amat. Malah bagusan nilai US History saya daripada sejarah Indonesia (ceritanya pamer dikit). Tapi kalau saya lempar balik, apakah dengan pengertianmu tentang sejarah lantas semua ketakutanmu di masa depan kalau dipimpin sama X atau Y bisa dijustifikasi?

Saya rasa enggak. Sesat pikir malah kalo ada yang jawab iya.

Udahlah, jangan terlalu paranoid. Manfaatnya apa sih? Orang yang memang punya kondisi kejiwaan yang suka paranoid aja saya yakin nggak ingin paranoid. Ini kita yang alhamdulillah sehat malah nyusahin hati dan pikiran sendiri. Masih mending kalo dinikmati sendiri paranoidnya, lha kalo dibagi-bagi? Duh, makasih deh.

Keadaan toh udah berubah. Masyarakat lebih berdaya. Ah, ilusi itu mah Nad. Ya terserah deh mau ilusi atau gimana. Tapi secara general kita lebih bawel daripada rakyat jaman dulu. Kanal bawelnya banyak lagi. Nih, contohnya blog saya.

Saya gak mau jadi orang yang ultra pesimis sama negara. Gak mau juga terbuai sama janji-janji dua kandidat Capres tersebut. Realistis aja, siapapun yang jadi presiden gak akan mendadak bikin Indonesia maju sejajar dengan Amerika. Gak akan tiba-tiba macet hilang. Well, di aminin aja sebenarnya(amiiin). Tapi ayolah, itu semua butuh proses. Dan prosesnya itu justru yang paling penting dimana peran kita benar-benar dibutuhkan. Mengawasi. Mengingatkan. Apresiasi juga pemimpin kita. Saya juga agak prihatin sih..gampang banget ya sekarang orang bikin Meme. Pake Prabowo atau Jokowi. Duh, calon pemimpin dipermainkan begitu. Lucu sih, saya juga cengengesan liatnya. Tapi mana respectnya sama mereka? Kebayang gak, perasaan kalian kalo itu Ayah kalian yang dijadiin Meme dimana-mana? Atau Om? Atau Kakek? Not so funny anymore, eh?

Santunnya orang Indonesia itu salah satu ciri khas bangsa kita. Sayangnya di era Orde Baru santun ini malah jadi senjata makan tuan, kesantunan jadi semacam alasan untuk menutupi ketidakadilan yang dirasakan masyarakat. Sakitnya disimpan dalam hati karena kalau diumbar nanti nggak santun. Nggak santun nanti nggak Indonesia. Nggak Indonesia nanti dimarahin pemerintah. Ya gitu deh.

Sementara sekarang, orang-orang berlomba memamerkan sakit hatinya. Santun udah gak jaman, yang jaman tuh Express Yourself! Bagus-bagus aja kok. Dukung! Tapi santunnya jangan ditendang ke pojok ke trus dimusuhin gitu dong. Bisa kan mengekspresikan diri dengan santun? Bisa kok, yakin :)

Duh, ngakunya mahasiswa tapi ini tulisan gak ada ilmiah-ilmiahnya sama sekali. Yaaah...maafin deh. Cuma curhat aja kok dikit.

Jangan lupa ya besok dipakai hak pilihnya! :)